Eka
Namara Ginting
Menerobos Lewat E-Travel
"Can you deliver one hundred million dollars in five years,"
tantang bos perusahaan investasi internet terbesar dunia kepada Eka Namara
Ginting dan Aji Widjonarko di Hong Kong bulan April lalu. "Jika tidak
bisa tidak usahlah berbicara dengan kami," tegas calon investor itu.
Kontan saja kedua pemuda Indonesia yang telah jauh-jauh dari Jakarta membawa
rencana bisnis indo.com menjawab tantangan itu dengan tegas pula: "Of
course!"
Jika ucapan itu datang dari pendiri perusahaan
internet yang tergolong "start up" (baru gres), maka siapapun
patut waspada. Jangan-jangan dia Cuma membual dan obral janji. Sebab untuk
mendapatkan suntikan dana dari investor itu banyak pendiri "start
up" bersedia ngomong apa saja demi uang itu. Proyeksi bisnis pun
dibuat melambung, hasil dari asumsi-asumsinya yang acap tak masuk akal.
Ujung-ujungnya dana yang disetor investor akan cepat ludas. Sedang bisnisnya
sendiri belum menghasilkan cashflow yang cukup untuk menunjang operasi.
Waktu itu Eka Ginting tidak sedang membawa start
up. Sebagai CEO ia bersama Adi, CFO (chief financial officer), sedang
memaparkan business plan dari indo.com yang bukan perusahaan baru. "Indo.com
adalah reinvention dari Bali Online yang berdiri sejak 1995 dan punya
strong international brand," ujar Eka Ginting mengenai situs e-travel
itu. Lalu, proyeksi-proyeksi yang ia tampilkan di depan investor juga
bukan janji angin surga. Semuanya berdasarkan hasil kerja riil Bali Online
selama ini. Proyeksi itu juga ditunjang kajian lembaga terpandang macam
Goldman Sachs atau McKinsey & Co. (Yang terakhir tempat kerja Eka
Ginting, sebelum mendirikan indo.com, di mana ia menjabat senior associate)
Jadi ketika Eka menyanggupi meraih bisnis $100
juta dalam lima tahun, ia tidak omong kosong. Maklum, selama tiga tahun
terakhir ini, indo.com dengan produk utama Bali Online telah mampu mencetak
laba. Hal yang jarang di kalangan perusahaan dotcom yang bermain di dunia
maya (internet) --- acap dengan omzet dan laba yang maya pula. "Selama
ini kami menawarkan produk dan jasa yang riil, pembaca yang riil, dan
- terpenting - penghasilan yang riil," ujar Eka.
Yang riil, tunjuk Eka, ialah banyaknya "pembaca
tetap" (unique users) situsnya yang jumlahnya mencapai 2 juta users
per tahun. Ini diperoleh dari 4 juta hits per bulan. Yang penting, banyaknya
users itu bias dikonversikan menjadi pembelian riil. Contohnya di Bali.
Lewat Bali Online terjadi pemesanan kamar 30.000 room-nights dengan nilai
$ 3.000.000. Jumlah itu tidak kalah dengan kinerja perusahaan perjalanan
preingkat menegah-atas. "Semua orang tahu kami di Bali sebab kami
membawa bisnis buat mereka," aku Eka Ginting seraya menunjukkan bahwa
80% pemesanan hotel di Bali via internet dilakukan lewat indo.com.
Apa bias, dari $3 juta langsung ke $100 juta dalam
lima tahun? Betting-nya adalah: pasar internet Indonesia akan mengikuti
Amerika dalam penetrasi pasar. Ke situ studi McKensey maupun Goldman Sachs
berpendapat bahwa pasar di sini (dan Asia umumnya) akan tumbuh 165% per
tahun. Jika untuk indo.com diambil estimasi konservatif saja, misalnya
pertumbuhan 100% per tahun, maka dalam lima tahun bias mencapai omzet
$96 juta. Cukup dekat ke target $100 juta di tahun 2004.
Mustahil? Memang, untuk ke sasaran setinggi itu
tidak cukup mengandalkan pada proyeksi pertumbuhan pasar saja. Perusahaan
harus memiliki modal ampuh agar bias meraih prestasi itu. Dan memang indo.com
punya modal macam itu, yakni teknologi. "Dalam bisnis internet maka
yang menang adalah mereka yang memiliki teknologi,"jelas Eka selepas
kuliah di Carnegie-Mellon University (meraih prestasi summa cum laude
baik dalam ilmu ekomoni dan computer science) sempat bekerja sebagai software
development engineer di Microsoft. Microsoft, Intel, Amazon, e-Bay, semua
itu perusahaan nomor satu di bidangnya masing-masing. "Who remembers
number two?" Tanya Eka Ginting menantang.
Teknologi andalan indo.com ke depan adalah system
reservasi hotel yang digaransi. Kalau sudah berjalan penuh, dalam waktu
dekat, maka seorang turis dapat memilih hotel, memesan kamar, membayarnya,
dan mendapat konfirmasi (dan buktinya, tinggal di-print) hanya dalam hitungan
menit (bisa dua menit, kata Eka Ginting). Takut transaksi on-line? Jangan
khawatir, indo.com bekerjasama dengan perusahaan pembayaran on-line yang
super-aman VeriSign.
(Di Indonesia hanya ada dua perusahaan, kata Eka Ginting, yang bisa memakai
jasa perusahaan ini. Satunya lagi adalah PT Indosat.)
Dengan model baru ini maka indo.com mendapat fee
setiap kali terjadi transaksi. Konsumen membayar ke indo.com saat booking
kamar, pembayaran mana baru diteruskan ke hotel saat tamu itu check out.
Cara ini berbeda dengan system yang dipakai indo.com sebelumnya. Pada
cara lama tadi, indo.com mendapatkan penghasilan hanya dari iklan-iklan
di situsnya. Laba bias diraih selama ini karena banyak hotel dan biro
perjalanan yang beriklan di situ. Terutama di pusat pariwisata Bali. Mereka
tertarik karena tahu indo.com, khususnya Bali Online, selalu ada di peringkat
atas di search engines top dunia jika mencari Bali. Nantinya uang akan
diperoleh indo.com terutama dari transaction fee dan referral fee.
Berkat interaksinya yang kental dengan kalangan
usaha di Bali maka Eka Ginting tahu bahwa industri barang seni dan kerajinan
menyimpan peluang menggiurkan. Pesanan dari luar negeri akan karya putra-putri
Indonesia saat ini saja sudah mencapai $1,7 milliar per tahun. Bisnis
itu bias meningkat menjadi $ 3.0 milliar pada tahun 2004 dan bagian signifikan
darinya akan diperjual-belikan via internet, tentu termasuk lewat situs
indo.com.
Model usaha indo.com juga mencantumkan sumber penghasilan
lain, yakni sebagai application service provider (ASP). Layanan program
aplikasi ditawarkan bagi jajaran industri pariwisata atau yang terkait
dengannya. Itu bisa hotel, perusahaan penerbangan, atau biro perjalanan
wisata. Aplikasi yang ditawarkan: reservasi kamar, ticketing pesawat dan
penjualan paket wisata. Semua ini bias didapat para pelaku pariwisata
dengan murah. "Kalau menggunakan konsultan kelas Andersen Consulting,
misalnya, untuk mengembangkan program aplikasi macam ini makanya biayanya
bisa dari 0.5 juta sampai sejuta dollar," jelas Eka Ginting. Sementara
dengan indo.com biaya itu bisa jauh lebih murah; Cuma sekitar $50 setahun.
Tawaran dari indo.com ini memang menarik. Dan,
yang penting menurut Eka Ginting, tawaran itu merupakan jasa e-commerce
dalam arti sebenarnya. Karena itu transaksinya bisa tuntas (dikonfirmasi)
dalam hitungan menit. Sedangkan layanan e-commerce lainnya di internet
umumnya berbasis e-mail. Makanya konfirmasinya bisa memakan waktu 24 jam
atau lebih. "Teknologinya kami kembangkan sendiri.Arsitekturnya saya
sendiri yang bangun dan membutuhkan waktu 1,5 tahun," aku Eka. Sementara
itu pengembangan programnya sendiri memakan waktu empat bulan; dirampungkan
bulan Juli lalu oleh sepuluh programmer software yang gigih bekerja hampir
24 jam per hari.
Memang, dalam menggarap apapun awak indo.com itu
bekerja dengan passion. "Apa yang kami kerjakan memang exciting,
begitu juga lingkungan kerja kami buat supaya menyerupai suasana Microsoft,"
tutur Eka yang bekerja di perusahaan Bill Gates itu pada tahun 1991-92.
Passion itu rupanya menular pada sejumlah atasan dari Eka Ginting maupun
Adi Widonarko. Alhasil sejumlah senior partnerdan managing director dari
McKinsey & Co. Indonesia dan bank investasi J.P. Morgan Indonesia
(tempat kerja Adi, dengan jabatan terakhir sebagai Vice President) siap
menjadi investor awal (acap disebut business angels) yang menyediakan
dana cikal bakal bagi indo.com.
Bagaimana seandainya usaha yang exciting ini akhirnya
mesti gulung tikar? "Kalau itu benar-benar terjadi masing-masing
kami akan terus melanjutkan apa yang kami tekuni sebelum masuk indo.com.
Kelebihannya, kami punya dua tahun pengalaman bekerja di perusahaan internet,"
ungkap Eka Ginting. Boleh jadi dengan pengalaman mendalam itu ia bisa
kembali ke McKinsey, misalnya, sebagai konsultan senior. "I'll probably
get a promotion with that kind of experience," lanjutnya yakin. Seyakin
ketika ia menjawab calon investor ketika ditantang soal kesanggupannya
meraih omzet $100 juta dalam lima tahun.
Media Name: Eksekutif
Date: November 2000
Page: 88-89 (1)
|