|
Indo.com
Jitu Membidik Travel Online
Nama Indo.com memang tak "segemuruh"
perusahaan dotcom lain, tapi Anda harus percaya, sejak online 1995, perusahaan
ini hingga sekarang masih eksis dan bahkan gencar berekspansi. Mula-mula
usaha kecil-menengah di bisnis Internet travel.
Sekarang perusahaan yang bisnis utamanya menjual
kamar hotel secara online itu telah memiliki 95 karyawan. Tahun lalu,
sebanya 4.500 orang telah memesan kamar-kamar hotel yang ia tawarkan melalui
web-nya (www.indo.com) dan mereka telah mem-book 30 ribu room night, dengan
revenue transaksi senilai US$ 3 juta atau sekitar Rp. 24 miliar (asumsi
U$ 1 = Rp. 8 ribu). "Jadi, selama tiga tahun berturut-turut ini,
kami untung lho," tegas Adi Widjonarko, Chief Financial Officer Indo.com
Kinerja wah Indo.com dalam blantika bisnis dotcom
tentu saja istimewa. Kalau menyimak data riset dunia, hanya sekitar 25
gelintir perusahaan dotcom yang bias mendapatkan untung- berarti Indo.com
termasuk salah satunya. Bagaimana bisa ?
"Kami mempunyai model bisnis dengann revenue stream yang jelas dan
rasional," ujar Eka N. Ginting, CEO Indo.com dengan gagah berani.
Maksudnya, model bisnis yang dipakai Indo.com adalah transaction aggregator.
Ia mengumpulkan penyedia dan pembeli jasa perhotelan yang kemudian memfasilitasi
terjadinya transaksi. Sehungga Indo.com mendapatkan pendapatan dari keuntungan
dan komisi transaksi
Jadi, Pola kerjasamanya ialah menawarkan para pengelola
hotel bergabung menjadi anggota web Indo.com yang dilengkapi system reservasi
online. Dengan menjadi anggota, pihak hotel bisa menjual kamar-kamarnya
secara online. Di sisi lain, calon pelanggan di seluruh dunia dengan mudah
melihat ketersediaan kamar di hotel-hotel anggota tersebut, dan kemudian
mem-book-nya secara online- dengan kartu kredit- dari masing-masing sebelum
berangkat ke Indoesia. Sebagai kompensasi, hotel yang sudah menjadi anggota
dikenakan biaya berlangganan sebesar US$ 50-250, tergantung opsi-opsi
yang disepakati. Lalu, Indo.com juga mendapatkan fee transaksi atau komisi,
besarnya rata-rata 10% dari tarif inap hotel.
Sejauh ini sudah ada sekitar 250 hotel di Jakarta
dan Bali yang menjadi mitra Indo.com Di antara hotel-hotel itu, ada kelas
menengah, yakni segmen US$ 10 permalam (melati) hingga hotel bintang lima
di Bali, 60% sudah menjadi sudah menjadi member Indo.com, " jelas
Eka. Selain di Bali dan Jakarta, kini Indo.com juga tengah menggarap hotel
di Lombok dan yogya. " Hotel-hotel itulah yang nanti-nya memberikan
revenue secara nyatadalam bentuk fee transaksi dan fee berlangganan."
Berbeda dari ribuan pemilik dotcom yang kian hari
kian cemas, Eka nampak yakin terhadap soliditas model bisnis yang digarapnya.
Bila banyak dotcom Indonesia merindukan datangnya duit dari iklan banner,
Indo.com tidak tergiur model itu.Bahkan Eka tak khawatir melihat penetrasi
Internet di Indonesia yang agak lambat. Kenapa? "Target market kami
pelanggan international, bukan turis domestik," tegasnya. Sasaran
Indo.com adalah pemain internet di Jepang, Australia, Eropa dan Amerika
Serikat yang menurut catatan jumalahnya sangat besar, sekitar 100 juta
orang.
Berdasarkan data Forester Research, sector travel
memang memiliki kepentingan palig tinggi terhadap eksistensi Internet.
Pasalnya, selain lebih mudah, juga bagi wisatawan lebih banyak memberikan
pilihan peluang. Forester Research menghitug kini 25 juta orang mencari
informasi wisata melalui Internet. Sementara transaksi travel online sendiri
pada 1999 mencapai US$ 3,5 miliar, jauh lebih besar ketimbanng segmen
peritel buku online seperti amazon.com dan Barnes & Noble yang hanya
senilai US$ 216 juta.
Data-data seperti itu membuat Eka berbesar hati. Apalagi, jumlah pengunjung
web Indo.com terus bertambah. Kalau Maret lalu ada 2,8 juta hit/bulan,
maka pada bulan-bulan terakhir ini, jumlah kunjungan mencaapi 4 juta hit,
atau sekitar 120 ribu hit/ hari. Dari angka tersebut, sambung Eka, 98%
pengakses merupakan orang asing. "Makanya tahun depan kami berani
menargetkan 5 ribu orang akan membeli kamar hotel secara online melalui
web kami,"katanya bangga.
Murut Eka, salah satu kekuatan Indo.com adalah pengelolaan SDM-nya. SDM
di perusahaan ini berasal dari berbagai latar belakang, dan termasuk orang-orang
pilihan. "Mereka canggih dan kreatif di bidang masing-masing,"Eka
menggambarkan anak buahnya. Mereka yang bergabung in dipilih yang memiliki
idelisme tinggi- bukan sekadar mecari gaji, tetapi ingin tantangan baru.
"20 orang pertama yang baru-baru ini masuk, hanya dengan jabat tangan.
Tidak ada gaji dan tidak kontrak,"kenangnya.
Eka sendiri misalnya, dua tahun terakhir bekkerja
sebagai Senior Associate McKinsey Company, perusahaan konsultan manajemen
terkemuka dunia. Lulusan program Phd. Ilmu komputer dari UniversitasCarnniege
Mellon, AS ini, menekuni Internet sejak 19987. Kemudian Adi Widjonarko,
sebelumnya Vice President JP Morgan dan ketua Tim JP Morgan yang memberikan
advis restrukturisasi perbankan di BPPN. Setahun terakhir sebagai manager
di IBM."Dari 95 karyawan Indo.com sekarang, 55% merupakan lulusan
terbaik luar negeri dan perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia,"
jelas Eka
Kendati sudah meraup sukses, para awakIndo.com
ini mengaku, asih belum puas mengembangkan Indo.com agar menjadi lebih
besarlagi, khususya di bidang teknologi, keuangannn dan pemasaran. Di
bidang teknologi, meski telah menerapkan sisitim reservasi online penuh,
tetap akan dikembangkanagar menjadi platform di Asia-Pasifik. "Kami
ingin seperti Travelocity dan Expedia yang bisa menjadi broker jasa travel
dunia,"ujar eka. Kini, lanjutnyaproses pembayaran online Indo.com
telah memakai software Verisign, software pembayaran online tercanggih
yang juga dipakai Kodak, Intel, dan perusahaan-perusahaan fortune 500,
Indo.com juga akan megembangkan bidang pemasaran, terutama memperluas
jangkauan teknik gerilya yang selama ini diterapkan, ke beberapa kota
di Australia, AS dan Eropa. Bukan berarti Indo.com akan meniadakan iklan
tapi, semuanya itu akan disesuaikan dengan revenue yang diterima. Kemudian,
perusahaan yang dirangkulmasuk web bukan hanya hotel, tetapi juga biro-biro
perjalanan Indo.com juga berencana menjual benda-benda seni dan kerajinan
secara online. Untuk memperkuat Divis Pemasaran, Indo.com merekrut SDM
dari biro-biro iklan seperti Indo-ad, agar mempromosikan webnya ke dunia
internasional
Secara historis, 100% kepemilikan saham Indo.com
awalnya oleh keluarga Ginting. Kemudian, masuk investor dari kalangan
petinggi JP Morgan dan Mckinsey Asia Pasifik, yang berinvestasi sebagai
pribadi. Dalam waktu dekat investor institusi juga masuk Indo.com-sekarang
samapai taraf negosiasi antar-lawyer. " Dalam 1-2 bulan ke depan
akan kami umumkan,"Eka berjanji.
Media Name: Swa,
Sep 21- Oct 04, page 39
|