EKA GINTING
PAWANG dotcom di Indonesia

Universitas Carnegie Mellon, Pittsburgh, 1994. Seorang pemuda sedang asyik mengutak - atik situs parawisata miliknya. Dia tidak pernah menyangka jika tujuh tahun kemudian, situs parawisata mengenai Bali itu menjadi portal travel dengan pemasukan menakjubkan.

Pemuda itu bernama Eka Namara Ginting. Sedangkan situsnya yang amat ternama adalah Indo.com. Siapa yang pernah menduga bahwa pria kelahiran Medan tersebut akan mencapai sukses seperti sekarang ini?

Coba saja bayangkan, dengan modal kartu kredit AT&T yang di maximize, Eka berhasil mengumpulkan dana sekitar 50 sampai 100 ribu dolar. Dia melakukan semuanya melalui kartu kredit, sampai-sampai menyatakan bahwa AT&T merupakan pemodal pertama Bisnisnya.

Lalu, tahun 1995 dia nekat mendirikan sebuah perusahaan maya yang berbasis Internet. Bagaimana tidak nekat? Boro-boro perusahaan maya - kini tenar dengan perusahaaan online atau dotcom, yang namanya Internet saja baru sedikit orang yang paham.

Maka tidaklah heran ketika Eka Ginting datang ke Bali untuk memperkenalkan usahanya, dia tidak menggunakan kata "Internet" melainkan "makhluk". "Ini ada makhluk yang dapat mendatangkan tamu ke hotel bapak", kenangnya.

Rupanya, dewi fortuna memang berpihak pada pemegang Summa Cum Laude (lulus dengan pujian ) S1 di Ilmu Ekonomi sekaligus Ilmu Komputer dari Universitas Washington tersebut. Usai seminar perkenalan situs Bali Online miliknya, ada dua hotel yang tertarik untuk memajang hotelnya di situ.

Bagaimana dengan kesiapan dalam perusahaan sendiri? "Harga sebuah server Sun Micro System sangat mahal pada saat itu," kata suami Nana Merukh ini. Tak kurang akal, Eka membeli perangkat yang di perlukan untuk membuat sebuah server. Biaya terbesar di habiskan untuk membeli software inti dan membayar koneksi Internet. Sisanya di kerjakan sendiri oleh Eka bersama kawan-kawannya.
Keseriusan Eka juga tampak ketika mempersiapkan konten untuk situsnya. Berbagai buku budaya, parawisata, sampai travel guide dia cari dan dipelajari, lalu menyiapkan diri sendiri beberapa tulisan untuk mengisi Bali Online

MENGAPA BALI?

Pulau yang ketenarannya mengalahkan Indonesia itu rupanya sudah menjadi rumah kedua bagi pria pemegang gelar S2 Ilmu Komputer Universitas Carnegie Mellon Pittsburgh tersebut. Jika sedang liburan, bias di pastikan bahwa Eka datang ke Bali untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Selain itu, Bali merupakan tujuan utama wisata dari setiap turis manca negara.

Berhubung Eka Ginting masih harus menyelesaikan sekolahnya, pengelolaan perusahaan banyak dipegang oleh ayahnya yang sudah pensiun saat itu. Kegiatan Bali Online selama kurun waktu dua tahun adalah menangani pemasangan iklan banner pada situs itu plus menyediakan jasa pembuatan halaman home page. Otomatis, pemasukan perusahaan juga hanya berasal dari hal tersebut.

Ketika kembali ke Indonesia pada tahun 1997, segudang ide sudah tersimpan dalam benak pria berkacamata minus ini. Sungguh sayang, krisis ekonomi sedang mengunjungi Indonesia - dan tampak masih betah hingga detik ini. Pengaruhnya pada segi bisnis sungguh dashyat karena banyak pemodal asing yang hengkang dari negeri ini.

Eka sendiri sampai harus memindahkan kantor Bali Online berikut 15 awak - semuanya progammer - ke garasi seluas 5 kali 12 meter di rumah orangtuanya. Selama tahun tersebut, dia tetap optimis menjalankan usaha, bahkan berniat mengembangkannya menjadi tempat pemesanan kamar hotel melalui Internet.

Ayah satu putri tersebut bukannya tanpa pertimbangan. Eka justru telah memperhitungkan dengan matang melalui penelitian yang dilakukannya. Salah satu rujukan yang diambil adalah penelitian dari McKinsey. Struktur biaya yang terbagi dua - biaya transformasi dan biaya interaksi - salah satunya ternyata bisa di perkecil melalui peran Internet. Biaya tersebut adalah biaya interaksi yang bisa di pangkas sampai 90 persen.

Sembari menunggu masa krisis membaik, pria yang menghabiskan masa kecilnya di Medan ini rupanya tidak mau menghabiskan waktu percuma. Pada tahun 1998, Eka memutuskan bergabung dengan salah satu perusahaan konsultan ternama - McKinsey.

Dengan posisnya sebagai Senior Associates, dia memperoleh kesempatan memperdalam ilmu manajemen dan mengembangkan bisnis. Secara tidak langsung pula, ayah Josephene Ilena Ginting itu memperoleh pemasukan tetap guna menopang Bali Online. Pada saat itu, Eka sedang mengembangkan arsitektur untuk mewujudkan impiannya, pemesanan tiket secara online.
Pasar yang dibidik perusahaan dotcom pertama itu adalah turis manca negara. Alasannya, mereka sudah terbiasa menjadikan internet sebagai bagian hidup sehari-hari termasuk untuk pemesanan tiket.

MENINGGALKAN MCKINSEY

Setelah dua tahun bergabung di McKinsey, pada tahun 2000 Eka Ginting memutuskan untuk keluar dari situ. Rupa-rupanya, jiwa entrepreneur yang bersarang dalam dirinya sudah tidak mampu menahan diri lebih lama lagi. Eka bahkan berhasil membujuk Adi Wijanarko untuk mengikuti jejaknya. Saat itu, Adi adalah Vice President JP Morgan dan ketua tim konsultan restrukturisasi di BPPN.

Keduanya lalu melakukan road show untuk mencari pemodal yang bersedia mengucurkan uangnya untuk Bali Online. Di hadapan para petinggi JP Morgan dan McKinsey Asia Pasifik, Eka dan Adi berhasil menyakinkan mereka untuk menanamkan modal di perusahaan mereka.

Tidak cukup sampai di situ, Eka juga melakukan perubahaan nama perusahaannya. Alasannya, pihaknya perlu sebuah nama yang lebih sederhana dan mudah di ingat. Jadilah, pada tahun 2000 Bali Online melakukan launching untuk nama barunya: Indo.com

Untuk model bisnis, Eka memilih transaction aggregator. Maksudnya, Bali Online mengumpulkan penyedia dan pembeli jasa perhotelan dan memfasilitasi terjadinya transaksi. Dari situ, konsumen yang berminat akan diberi berbagai pilihan fasilitas hotel yang namanya tercantum di situs Bali Online termasuk harganya. Mulai dari pemesanan, konfimasi, sampai pembayaran akan berlangsung dalam hitungan kurang dari dua menit.

Jadi pola kerjasamanya adalah menawarkan para pengelola hotel bergabung menjadi anggota web Indo.com yang telah di lengkapi system reservasi online. Dengan menjadi anggota, pihak hotel bisa menjual kamar-kamarnya secara online. Di sisi lain, calon pelanggan diseluruh dunia dengan mudah melihat ketersediaan kamar di hotel-hotel anggota tersebut, dan kemudian mem-book-nya secara online -dengan kartu kredit- dari masing-masing negara sebelum berangkat ke Indonesia.

Sebagai kompensasi, hotel yang sudah menjadi anggota dikenankan biaya berlangganan sebesar US$ 50-250, tergantung atas pilihan yang disepakati. Lalu, Indo.com juga mendapatkan fee transaksi atau komisi, besarnya rata-rata 10 % dari tarif inap hotel.

Berdasarkan data Forester Research, sektor travel memang memiliki kepentingan paling tinggi terhadap eksistensi Internet. "Makhluk" itu terbukti mempermudah jalan dan memberikan pilihan peluang bagi wisatawan. Dari data yang sama, tercatat sebanyak 25 juta orang mencari informasi wisata melalui Internet. Transaksi travel online sendiri pada 1999 mencapai 3,5 miliar dolar AS, jauh lebih besar daripada segmen peritel buku online seperti amazon.com dan Barnes & Noble yang hanya senilai 216 juta dolar AS.

Data penguat itu diperoleh dari International Data Corporation (IDC). Disebutkan, bisnis yang berpeluang meraih untung dari pemanfaatan Internet adalah yang berkaitan dengan keuangan, komputer dan pariwisata. Ibarat resep rahasia, Eka berhasil menemukan adonan pas sebagai andalan bisnis yang akan di jalankannya.

Sejauh ini sudah ada sekitar 300 hotel di Jakarta dan Bali yang menjadi mitra Indo.com, dari kelas melati yang tarifnya 75 dolar AS hingga kelas bintang lima yang tarifnya mencapai 3.000 dolar AS permalam. Jumlah book hotel pada tahun 1999 melalui Indo.com tercatat sebanyak 30 ribu kamar tiap malam. Pada tahun 2000 berlipat dua menjadi 60 ribu. Sangat jauh bedanya dengan jumlah book hotel pada 1996, 15 kamar tiap malam. Ke depan, Indo.com akan menggarap hotel di kawasan Lombok dan Yogya.

Keamanan transaksi di indo.com sendiri rupanya sudah di dukung dengan system keamanan yang memadai. Dipakai sejak Februari 2001, portal travel itu menggunakan VeriSign yang juga dipakai oleh Kodak, Intel dan perusahaan-perusahaan fortune 500. Menurut Eka, Di Indonesia baru Indosat dan Indo.com yang menggunakan VeriSign .

Tawaran dari Indo.com ini memang menarik dan merupakan jasa e-commerce dalam arti sebenarnya. Karena itu transaksinya bisa tuntas (di konfirmasi) dalam hitungan menit. Sedangkan layanan e-commerce lainnya di Internet umumnya berbasis e-mail. Makanya konfirmasinya bisa memakan waktu 24 jam atau lebih.
Jika pemilik perusahaan dotcom banyak yang kian cemas, maka tidak demikian halnya dengan Eka, Chief Executive Officer Indo.com, ini merasa yakin terhadap solidalitas model bisnis yang digarapnya. Dan jika banyak dotcom Indonesia merindukan datangnya duit dari iklan banner, maka Indo.com tidak tergiur akan model itu.

Bahkan, Eka tak merasa khawatir melihat penetrasi Internet di Indonesia yang tergolong lambat. Apa sebab? Ini karena target market Indo.com adalah pasar Internasional, bukan turis domestik. Sasaran Indo.com adalah pemain Internet di Jepang, Australia, Eropa dan Amerika Serikat yang jumlahnya sangat besar, sekitar 100 juta orang.

Pemasukan Indo.com yang lain berasal dari transaksi barang seni dan kerajinan. Berkat interaksi yang kental dengan kalangan usaha di Bali, Eka Ginting tahu bahwa industri barang seni dan kerajinan menyimpan peluang menggiurkan. Untuk memfasilitasi hal tersebut, Indo.com meluncurkan sister site khusus, bernama rajacraft.com. Dari situ, pesanan dari luar negeri saat ini saja sudah mencapai US$ 1,7 miliar pertahun. Bisnis itu bisa meningkat menjadi US$ 3 miliar pada tahun 2004.

Selain model bisnis dan target pasar terarah, rupanya Indo.com juga benar-benar menyaipkan satu hal penting yaitu sumber daya manusia. Bahkan Eka berani menyatakan, salah satu kekuatan Indo.com ada pada pengelolaan SDM-nya. Mereka berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan termasuk orang-orang pilihan.

"Mereka canggih dan kreatif di bidang masing-masing" ujar Eka menggambarkan anak buahnya. Sumber daya manusia Indo.com adalah orang yang memiliki idealisme tinggi bukan sekedar mencari gaji, tetapi ingin tantangan baru." Bisa saya katakan bahwa 20 orang pertama yang masuk kesini tahun 2000 lalu, hanya dengan jabat tangan. Tidak ada gaji dan tidak ada kontrak."

TEKNOLOGI BARU

Perusahaan yang maju dan berkembang menurut Eka adalah yang mengembangkan teknologi. Maka jangan heran jika perusahaan itu juga membangun, mengembangkan dan menjual teknologi. Sampai saat ini sudah ada tiga software yang berhasil dikembangkan awak Indo.com.

Pertama, turboHotel yang merupakan system reservasi untuk mempermudah pemindahan data antara hotel dan agen travel. Kedua, turboPMS untuk mempermudah pengelola hotel menjalankan manajemen melalui system front office dan back office. Ketiga, turboCRM untuk mengelola database customer yang terintergrasi dan memiliki open architecture.

Melalui ketiga software itulah Indo.com menerapkan model Application Service Provider (ASP). Layanan program aplikasi tersebut bisa di terapkan pada biro perjalanan wisata, hotel, perusahaan penerbangan, bahkan rumah sakit atau apartemen. Pokoknya semua usaha yang perlu menangani reservasi.
Mau tahu perbandingan harganya? Jika meminta konsultan kelas Anderson Consulting untuk mengembangkan program aplikasi macam itu, biayanya antara setengah juta sampai satu juta dolar AS. Sementara kalau membeli pada
Indo.com hanya sekitar 50 dolar AS setahun.

Roy Sembel - praktisi new economy yang kenal dengan Eka Ginting sejak di bangku kuliah - menilai langkah yang di lakukan Eka Ginting sudah tepat. Langkah pelebaran usaha Indo.com - ke bidang yang masih terkait dengan parawisata - di sebutnya sebagai related diversification. Bahkan Roy berani menyatakan, jika ingin menjadi perusahaan dotcom yang sukses, contoh paling tepat adalah Indo.com.
Kendati sudah meraup sukses, Eka mengaku masih belum puas. Dia ingin mengembangkan Indo.com agar menjadi besar lagi, khususnya di bidang teknologi, meski telah menerapkan system reservasi online penuh, tetap akan di kembangkan agar menjadi platform di Asia Pasifik. "Kami ingin seperti Travelocity dan Expedia yang bisa menjadi broker jasa travel dunia".

Indo.com juga akan mengembangkan bidang pemasaran, terutama memperluas jangkauan teknik gerilya yang selama ini diterapkan, ke beberapa kota di Australia, AS dan Eropa. Bukan berarti Indo.com akan meniadakan iklan tapi, semuanya itu akan di sesuaikan dengan revenue yang diterima.
Kemudian, perusahaan yang dirangkul masuk web bukan hanya hotel, tetapi juga berencana menjual benda-benda seni dan kerajinan secara online. Untuk memperkuat divisi pemasaran, Indo.com merekrut SDM dari biro-biro iklan seperti Indo-ad, agar mempromosikan webnya ke dunia internasional.
Ingin sukses di belantara new economy, mungkin dapat meniru langkah Eka yang mempunyai konsep serta model bisnis yang jelas bagi perusahaan dotcom yang dimilikinya. Memang tidak salah kalau Indo.com d/h Bali Online menjadi perusahaan dotcom pertama di Indonesia.

KIAT MEREKA MERAIH PASAR

Indo.com sangat cerdik dalam melihat peluang. Mereka menelurkan idenya itu dengan membuat sister site portal travel itu. Yang pertama adalah rajacraft.com. Sister site ini didirikan khusus sebagai tempat pertemuan antara produsen barang seni dan kerajinan Indonesia dengan calon pembeli di seluruh dunia. Juga untuk membantu pembeli manca negara yang mencari informasi komprehensif tantang berbagai produk kerajinan dan barang seni. Semula hal itu berlangsung melalui Indo.com. Melihat permintaan yang semakin besar akhirnya pada tahun oktober 2000 di luncurkanlah sister site itu.

Saat ini, dalam seminggu saja bisa terjadi 10-20 permintaan transaksi online dalam skala kecil. Jika berbicara skala besar, pastilah bukan online. Ini menyangkut letter of credit (LC) untuk transaksinya sedangkan saat ini belum ada proses untuk hal itu.

Sister site yang kedua adah paket rupiah.com yang diluncurkan pada desember 2000. Situs ini ditujukan untuk membidik pasar domestik yang ingin menghabiskan liburannya bersama keluarga. Pasar domestik tersebut adalah orang Indonesia dan ekspatriat yang bekerja di Indonesia.

Yang berikutnya adalah balifofamily.com. Sister site ini di tujukan untuk para pelancong manca negara yang ingin menghabiskan liburan bersama keluarga. Jika paket rupiah di khusukan untuk domestik, maka paket yang diluncurkan pada februari 2001 ini khusus untuk pasar luar negeri.

Untuk pelancong dari negeri Sakura, Indo.com meluncurkan situs nandemobari.com pada bulan yang sama. Keseriusan portal dalam menggarapnya tampak dalam bahasa yang di gunakan di situs itu. Menggunakan huruf Kanji, nandemobari bisa di artikan sebagai "semua mengenai Bali"

Sister site selanjutnya di beri nama orientmagix.com. Jika Indo.com lebih banyak menjembatani pelancong asing yang ingin berlibur ke dalam negeri, situs yang ini justru sebaliknya. Portal travel ini memberi tawaran menarik kepada wisatawan Indonesia yang ingin menghabiskan liburan di seluruh kawasan Asia Pasifik. Situs ini diluncurkan juga pada bulan Februari.

Eka menyatakan, pembuatan masing-masing situs tidak memakan waktu lama. "paling hanya makan waktu beberapa hari saja". Selang peluncuran situs-situs tersebut juga berdekatan satu sama lain. Menurut CEO Indo.com ini, meluncurkan situs merupakan hal yang mudah, tidak perlu menunda-nunda waktu. Jika ada pasar khusus yang ingin di bidik, tinggal membuat situs dan hap, luncurkan saja.
Mengenai sumber daya yang menangani bagi Eka tidak menjadi masalah. Emil Sumirat yang memegang divisi TI di portal travel tersebut menyatakan, jumlah pekerja TI di situ memungkinkan mereka untuk berkonsentrasi pada suatu program tertentu. Apalagi karena Indo.com memiliki orang-orang terpilih dan tak dapat disangsikan lagi kemampuannya.

Sebenarnya dari mana ide pembuatan sister site tersebut?
"Ya Eka Ginting", kata Emil. Hal itu di tegaskan juga oleh Dewi Purnama Widjaja yang menangani SDM Indo.com. Mereka menuturkan, begitu banyak hal yang ada di kepala Eka Ginting. Dan jika sang CEO sudah "menitahkan", dalam jangka waktu tak terlalu lama keinginannya harus sudah bisa diperkenalkan kepada publik. Tentu saja, produk-produk Indo.com yang diluncurkan adalah yang dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya.

Media: Tabloid dotCOM
Edisi 22 Thn II, 24 April - 7 Mei 2001