Indo.com
Tepat Membidik Pasar
Ketika perusahaan dotcom lainnya sibuk membuat penawaran, Indo.com justru
sibuk melayani permintaan konsumen. Dengan memilih Pulau Dewata sebagai
tujuan e-travel bisnis, Indo.com menggarap pariwisata, termasuk hotel-hotel
di Bali, mulai kelas Melati hingga berbintang lima.
Ini cerita Eka Ginting, CEO Indo.com mengenai orang
pertama yang melakukan pemesanan hotel untuk berlibur di Bali. Ternyata
orang itu berasal dari kutub utara, tepat dari Eskimo. Tak terbayang sebelumnya
bukan? Maka, ketika sang pembeli benar-benar datang, Eka membuat acara
spesial untuknya.Ketika ditanya wartawan mengapa memilih media internet
dan Bali Online, sang tamu menjawab, "Mengapa susah-susah, karena
hawa dingin di sini (kutub utara), memanasi mobil saja butuh waktu enam
jam. Sedangkan kalau kita klik, dua menit selesai."
Ibarat manusia, usia lima tahun baru masih tergolong
bocah ingusan yang menduduki taman kanak-kanak. Apalagi bagi sebuah perusahaan
dotcom. Tetapi bagaimana dotcom yang satu ini bisa eksis? Apa focus bisnis
mereka, apakah mereka termasuk vertical atau horizontal bisnis? Apa sasaran
dan strategi dalam membangun pasar?
Mulai bergerak di internet mulai tahun 1987, sewaktu
Eka kuliah di Uniersitas Washington, Seatlle. Waktu itu ia membuat mailing
list pertama, yang bernama Indonesian@janus.berkeley.edu. Ini mailing
list Indonesia pertama yang anggotanya pernah mencapai seribu orang, termasuk
Onno Purbo dan Budi Raharjo.
Setelah lulus dari Universitas Washington, Eka
melanjutkan master di Carnegie Mellon. Sambil belajar, ia menyempatkan
diri untuk iseng-iseng melihat teknologi, sekaligus home page-nya. Waktu
itu banyak yang merespons, ada telepon, fax, padahal hanya memberikan
dua halaman informasi pariwisata ke Bali.
Melihat respons yang cukup baik,Eka Ginting lantas
memberanikan diri untuk mengambil utangmelalui tiga kartu kreditnya, dengan
alokasi kredit minimal US$ 7.500. Mengapa memilih pariwisata, terutama
Bali?"Ada tiga industri yang paling diuntungkan degna adanya internet.
Yaitu, komputer, informasi finansial, seperti informasi lembaga mutual
fund, dan travel. Kalau kita bicara traveling di Indonesia, nenek-nya
juga Bali."
Pada saat mengawali Bali online pada Agustus 1995,
cara yang dilakukan oleh Eka Ginting masih konvensional. "Begitu
orang klik, kita e-mail kesana, dan kalau belum punya e-mail kita telpon
da fax." Padahal, tahun itu di Balibelum ada ISP, sementara di Jakarta
baru Indo.net yang mendapat izin oprasi. Bali online menjadi salah satu
pioneer dalam industri internet ini. Tujuh bulan kemudian (Maret 1996)
Bali online baru memperoleh reservasi 15 kamar hotel. Namun, mereka justru
mengalami peningkatan secara pesat. Desember tahun lalu, ada sekitar 6.000-7.000
kamar dari total setahun kira-kira 30.000. Berarti, rata-rata ada sekitar
2.000 kamar perbulan yang melakukan reservasi melalui Bali online.
Dengan pertumbuhan yang pesat ini, papar Eka, praktis
pada tahun ketiga sudah menuai keuntungan. Dikala perusahaan lain sedang
melakukan aksi tiarap akibat krisis moneter, Bali online justru telah
mampu melunasi utang-utangnya, serta menuai keuntungan. Lantas, darimana
revenue Bali online diperoleh? " Biasanyakita memperoleh kontrak
rate dari hotel sekitar 10-15% untuk ditawarkan kepada tamu. Dan kita
mendapat komisi dari kontrak rate, dan bisa diskon 30-80% dari publish
rate.
Tentu hal ini tidak bisa dilakukan tanpa adanya
kepercayaan dari pihak hotel. "Ini berasal dari track record kita.
Dengan perolehan 30.000 kamar, mereka sudah tahu terhadap kita. Sebelumnya,
kita harus menjelaskan satu persatu. Benar-benar ketengan. Kita tidak
diberi kontrak rate dengan model dulu. Kalau ada booking, kita kasih ke
hotel, nanti hotel yang balas, dan kita dikasih komisi. Rp 10.000-20.000
per hotel. Seperti tahun lalu, dari 2500 kamar, berarti 7 kamar per hari."
Kini, Eka, mengembangkan teknologi reservasi yang
disebut system reservasi online. Kalau dulu hanya dengan formulir orang
meminta reservasi, dan e-mail disampaikan ke hotel, ada kamar atau tidak,
kita tidak tahu. Sekarang, inventory langsung kita manage online, sekali
klik ada kamar atau tidak, klik kedua, bisa pilih, klik ketiga langsung
beli," tukasnya.
Untuk membangun sistem payment, Bali online berpartner
dengan Veri Sign, yaitu salah satu perusahaan terbesar dalam system pembayaran
di dunia. Veri Sign yang mengkonekdengan visa internasional. "Kalau
di Indonesia yang berpartner dengan Veri Sign hanya dua, yaitu Bali online
dan Indosat. Kita perlu payment infrastruktur yang baik. Kalu tidak, orang
tak akan percaya."
Untuk bisa berpartner dengan Vei Sign, bukan hal
yang mudah. Pasalnya, selain melakukan due delliget, bankcrap, semua shareholder
diminta. Baru Juni lalu, MoU antara Bali online dengan Veri Sign dilakukan.
Di kawasan Asia Tenggara, perusahaan itu banyak berpartner dengan perusahaan
yang berasal dari Malaysia dan Singapura. Dengan partner internasional,
kepercayaan pasar tehadap Bali online makin tebal. Sehingga membuat Bali
online kemudian diakui dalam mendistribusikan hotel untuk customer. Maka
wajar saja apabila Eka, menargetkan peningkatan pertumbuhan sebesar 80-100%
per tahun.
Bagaimana strategi marketing mereka? "Selama
lima tahun ini international advertising kita kecil. Bahkan, lebih dengan
cara gerilya dan gratisan. Tahun ini lebih banyak building up, baru pada
tahun depan kita berpromosi. Kita hitung antara US$ 1-2juta. 30.000 kamar
= 5.000 orang, dan tahun depan kita targetkan 7.000-10.000 orang. Walaupun
dengan penetrasi travel bali melalui internet yang hanya sebesar 0,5-1%
sehingga menjadikan mereka optimis dan masih bisa berkembang pesat. Self
income berasal dari fee transaksi sekitar 10%. Saat ini Bali online jugamengembangkan
untuk voucher tour package. Tetapi harus diperhatikan, Indo.com hanya
bergerak pada mekanisme penjualan, dan bukan menjadi travel agen. Kita
berpikir end to end. Karena selama lma tahun ini Indo.com mencari duit
dari hasil membuat home page, dengan nilai US$ 500 dollar per tahun.
Indo.com yang kepemilikannya masih dimiliki oleh
keluarga Ginting, kini masuk Adi dan Emil. Diharapkan, Indo.com, semua
akan memeperoleh bagian stock exchange." Kita mempunyai investor.
Sewaktu keluar dari McKinsey dan Adi dari JP Morgan, bos-bosnya bilang,
uutk ikut investasi juga. Termasuk Managing Director dari McKinsey dan
JP Morgan Asia Pasifik."
Apabila investor masuk, Eka memiliki tiga rencana
ke depan. Pertama, building the team. Sekarang ini jumlah karyawan sekitar
95 orang, 65 di Jakarta, dan 35 di Denpasar. Kedua, dari teknologi. Kita
memiliki satu software yang kita developt sendiri melalui online reservation
system itu. Mengapa membuat sendiri? If you look the winner the business
, the company is the technology. JadiBali online tidak hanya sekadar memakai
karena setiap saat bisa klik dan konfigurasi.
Dalam dunia kompetisi yang ketat, benchmarking
bagi design jelas dilakukan, tutur Eka. " Tapi kalau kita pikir siapa
top the world in technology, ialah SABRE. Yakni perusahaan computerize
reservation system milik American Airline. Perusahaan itulah yang pertama
kali membuat system reservasi via komputer pada tahun 1970-an".
Jadi, bicara Indo.com, paling tidak akan terllihat
keunggulan technologi, bahkan, menurut Eka di Asia tak lebih dari lima
perusahaan yang memiliki sisitem res ervasi tesebuut. " Untuk yang
local macam Astaga tours belum memiliki tekknologi online, tetapi masih
menggunakan e-mail dan telpon dulu. Kalau kita jelas full online. Kedua,
system di desain hanya tiga kali kllik 2 menit diharapkan bisa OK. Ketiga,
pemasaran. Kita harus kontinu merekrut dan memepertahankan hotel-hotel
yang ada pada kita, dan harus menargetkan internasional audience supaya
melihat kita. Mengingat 98% tamu Indo.com berasal dari luar. "Konsekuensinya?
Mereka lebih fokkus menarik orang di Austrllia, Jepang, Jerman dan berencana
beriklan di Sidney, karena customer yang banyak berasal dari sana.
Tahun depan mereka akan menawarkan teknologi yang
dimillikinya kepada orang lain." Seperti Vietnam.com akan membuat
online system, tetapi daripada memebuat teknooginya, lebih baik pakai
teknologi kita, missal 7 dollar sekali lewat/ Trafic. Barangkali, menyinggung
pariwisata di Bali, kini tak lepas dari kiprah anak-anak muda kreatif
seperti mereka, apalagi mereka segera mendaapat investasi kurang lebih
US$ 10 juta. Dus, pulau Bali memang indah.
Media name : Eksekutif
Date : November 2000
Page : 88-89 (2)
|